Cerita di Akhir Senja, Guru Penikmat Kehidupan, #visit Desa Belaras 2020, Kabupaten Indragiri Hilir, Provinsi Riau


Cerita di Akhir Senja, Guru Penikmat Kehidupan, #visit Desa Belaras 2020, Kabupaten Indragiri Hilir, Provinsi Riau


Tong … tong … tong … Nyaring bunyinya
Drumnya kosong … tolong isi airnya

Hari ini kepalaku pusing tujuh keliling karena persediaan air semakin menipis. 3 drum di dalam rumah … 2 diantaranya sudah kosong … yang tersisa hanyalah sisa-sisa air kotor yang berada di dasar drum. Sedangkan 1 drum hanya terisi seperempat drum saja. Berharap tuhan menurunkan hujan … supaya aku bisa menampung air yang banyak. Namun … sudah berapa minggu ditunggu, air belum nampak pula hilalnya. Kebutuhan air sudah tak bisa menunggu. Cucian menumpuk … butuh air … air minum habis … butuh air … masak ini itu … butuh air … dan segala kegiatan di kamar mandi … butuh air. Aku bisa apa coba way … kalau keadaannya begini … rasanya inginku teriak … yuhiya hiyu hiya hiyu … arrrgghhhh …

Setelah lama berpikir way … akhirnya aku mencari dewa penolong yang bisa membantuku untuk mengisi air didrumku. Merekalah murid-muridku yang baik hati dan aku sayangi … Harazi dan Barizal namanya. Kusuruh mereka ke rumahku selesai pulang sekolah untuk mengambil air bor yang disediakan gratis oleh desa untuk warganya. Dengan wajah tersenyum dan hati yang tulus mereka mau membantu bapak gurunya mengambil air bor. Syukurlah … aku sangat berterima kasih kepada tuhan atas kemudahan ini.
Setelah beberapa waktu usai pulang sekolah, terdengar pintu orang mengetuk pintu. Ternyata kedua anak muridku menepati janjinya untuk mengisi air drumku. Mereka mengatakan akan menggunakan sampan untuk mengambil airnya. Biar proses membawanya lebih mudah dan tak bikin capek bila diangkut pakai gerobak. Dan memang posisi tempat tinggalku terletak di pinggir laut dan pintu dapur menghadap langsung ke arah laut sehingga jadi lebih mudah untuk menbawa airnya. Mana bagusnya aja ya … kataku pada mereka. Mereka mengangguk dan pulang lagi ke rumah mereka untuk mengambil sampan.
Beberapa waktu kemudian … dari belakang rumah mereka lewat mendayung sampan. Kulihat banyak ember berjajar di dalam sampan. Dengan penuh semangat mereka mendayung … sambil tersenyum mereka mengatakan … kami ambil air dulu Pak. Hati-hati … kataku mengingatkan mereka. Kupandangi mereka dari pintu dapur sampai sampan mereka mengecil lalu hilang dihalang oleh jarak. Lalu … aku melanjutkan tugas kenegaraan di dalam rumah … memasak dan mencuci piring. Maklumlah way … masih bujangan … jomblo lagi …  tahu sendirilah … hhee … walaupun begitu way … aku tetap bahagia menjalani kehidupanku seperti ini … dan senantiasa bersyukur apapun keadaan yang aku hadapi … karena aku yakin semuanya sudah diatur oleh tuhan … yekan way … iyein ajalah pokoknya ya way … biar cerita ini bisa lanjut … wkwk
Selesai semua urusan perdapuran kukerjakan … aku istirahat sejenak duduk di kursi dekat pintu dapur sambil menunggu muridku membawa air kehidupan. Air laut masih asyik bergelombang menghentakkan kayu-kayu pondasi rumah dan mengajak aku untuk merasakan sensasi goyangannya yang membawaku seakan-akan berada di dalam kereta. Ditambah lagi air laut yang berhembus mengantarkan kesejukan di siang hari yang gerah ini. Ingin rasanya aku tidur menikmati suasana yang penuh kedamaian … tapi aku tak bisa way … karena harus menunggu muridku datang. Karena aku ingin melihat perjuangan mereka membawakan air yang sangat kubutuhkan.
Seiring suara ombak dan bunyi kayu yang tertiup angin … samar-samar dari kejauhan kulihat sampan yang kutunggu itu. Semakin dekat dan semakin jelas mereka menghampiriku dengan berember-ember air di dalam sampan. Mereka memarkirkan sampan dengan menambatkan tali di kayu. Ni Pak airnya … kata mereka. Wah … banyaknya … kataku dengan riang. Tanpa disangka respon mereka tidak seperti perkiraanku. Masih sedikit ini Pak … nanti kami ambil lagi … ujar mereka dengan sungguh-sungguh. Dan memang benar … setelah air kami angkut ke atas rumah lewat pintu dapur … air yang kami masukkan ke dalam drum hanya terisi setengah saja. Lalu, mereka pergi lagi … setidaknya dua kali bolak-balik mereka ambil air … barulah drumku terisi penuh. Luar biasa … sahalut aku dengan kebaikan kedua anak muridku ini. Terima kasih sudah membantu bapak guru ya Nak … kataku degan bangga kepada mereka. Iya Pak … sama-sama. Nanti … kalau airnya sudah habis … bilang sama kami ya Pak … mereka menawarkan jasa yang tulus tanpa modus didalamnya. Akupun mengangguk mengiyakan perkataan mereka.
Sebelum mereka pulang … kusuruh mereka minum air jasu … alias jahe susu buatanku. Entah karena mereka memang haus atau suka dengan minuman buatanku … (menurutku karena alasan yang terakhirlah way) … air jasunya habis. Maksa banget yak … hhaaa … Selesai mereka minum … mereka mengatakan ingin mengajakku jalan-jalan naik sampai mengelilingi Desa Belaras. Ah … luar biasa syekali anak-anak ini … aku terharu dibuat mereka … mengingat dan menimbang ini dan itu … kuputuskan untuk menerima tawaran mereka. Tak butuh waktu lama … setelah aku mengunci pintu depan  … kami pun turun ke sampan dan bergegas pergi memulai travelling sore kami. Are you ready … let’s go way …
Selama perjalanan … banyak cerita yang kudengar tentang kegiatan mereka sebelumnya … mereka mengatakan pernah diajak orang tuanya mencari udang … memancing ikan di malam hari … pergi mendayung sampan berjam-jam ke desa lain hanya untuk mengantarkan jagung. Dari cerita-cerita murid-muridku ini … mengajarkan aku banyak hal tentang kehidupan di daerah perairan. Ada satu cerita yang membuatku sedih … mereka berdua mengatakan … kalau sampai hari ini … mereka belum pernah sekali pun pergi ke Tembilahan. Ya tuhan … limpahkanlah aku sedikit rezeki agar suatu saat nanti aku bisa mengajak mereka berdua pergi ke Tembilahan agar mereka juga merasakan bagaimana kehidupan dan suasana di kota. Doakan ya way … aamiin …
Matahari mulai lelah menerangi dunia … dia mulai beranjak turun kembali ke peraduannya. Dan kami pun tak terasa sudah sampai lagi di belakang rumah setelah lebih kurang 1 jam lamanya berkeliling sampan. Terima kasih untuk hari ini anak-anakku … bapak guru bangga dengan kalian … doa terbaik untuk kalian dariku … dadaaaa ….




                                                                                   Belaras, 15 Oktober 2019


                        Harazi dan Ijal membawakan air dengan sampan mereka



                                                    Travelling sore bersama anak murid










\

Post a comment

0 Comments