CERITA AKHIR LATSAR CPNS ANGKATAN 33, KABUPATEN INDRAGIRI HILIR, PPSDM KEMENDAGRI REGIONAL BUKITINGGI 2019


“BELANJA KADAK PANTENG”


Selesai seminar aktualisasi … semua beban di kepala seakan-akan lepas tak berbekas. Untuk merayakan hari kebahagiaan itu … kami membuat rencana untuk pergi jalan-jalan ke Bukittinggi sambil membeli oleh-oleh sedikit. Tapi apa yang terjadi way … mau tahu … penasaran  … kita lihat ending dari cerita ini nanti ya way … pokoknya baca aja terus sampai selesai way …
Setelah meminta tanda tangan dari mentor untuk laporan aktualisasi yang telah kami seminarkan sebelumnya … kami memiliki banyak waktu luang untuk pergi jalan-jalan. Sebenarnya untuk urusan tanda tangan itu … masih ada beberapa yang belum ditandatangani. Namun … untuk mendapatkan tanda tangan mereka … maka harus menunggu siang nanti karena beberapa diantaranya baru bisa datang siang ini ke PPSDM Bukittinggi. Mengingat hal itu … dan menimbang ada teman dalam kelompok kami yang tidak pergi kemana-mana … jadi kami meminta bantuan Pak Rahmat untuk memback up semuanya. Berkat hati yang mulia dari dia … akhirnya kami bisa pergi untuk jalan-jalan ke bukittinggi. Hore …
Rencana awal … kami berangkat bersama ibu-ibu sosialita dari angkatan 33 untuk pergi.  Namun … ada tawaran yang menggiurkan dari Bang Jamil …dia bilang … nanti aja perginya … bareng sama abang aja nanti … kita pergi sama-sama. Pak Andres juga mau ikut nanti. Berkat hasutan yang indah, seindah intan permata … kami memutuskan untuk tidak jadi pergi. Ok Bang … udah kami cancel. Nah begitu … itu baru namanya setia kawan way. Waktu terus berputar … memutarbalikan pikiranku tentang janji manisnya Bang Jamil tadi. Kutanya lagi … bagaimana Bang … pergi sekarang … udah hampir 1 jam loh kita menunggu. Sabar way … kita tunggu Pak Andres dulu. Atau gini aja … coba kita telpon Pak Andresnya … dimana posisinya sekarang. Okelah kuambil hp dan menelpon Pak Andres. Tut …tut … tut … halo … Pak Andres … dimana … kataku. Ini lagi menunggu bapak untuk minta tanda tangannya … katanya. Kuungkapkan saja maksud dan tujuanku … begini Pak Andres … kami mau mengajak bapak pergi ke Bukittinggi sekarang. Oh maaf Pak I’am … kalian saja yang pergi … saya tidak bisa. Baiklah kalau begitu Pak Andres … Assalamualaikum … Waalaikumsalam. Bagaimana Bang .. Pak Andres tidak bisa ikut. Dengan wajah santuy tanpa dosa … Bang Jamil bilang … tunggu ajalah dia pulang … nanti kita hasut mau dia …  santai aja nya. Kata bang Jamil mencoba menenangkan kami dengan logatnya yang khas itu. Lagi dan lagi … kami terhipnotis dengan rayuan maut dari dia. Okelah Bang … kita tunggu sampai Pak Andres pulang.
Di kamar depan … terdengar olehku suara bidadari-bidadari angkatan 33. Ada apa gerangan mereka di kamar depan … apa yang mereka lakukan di sana … bukankah itu kamarnya para pria-pria kesepian. Di dalam sana mereka bersenda gurau dan tertawa manja … ah ah … ih ih. Tanpa mereka sadari aku tiba-tiba muncul di antara mereka. Ternyata mereka sedang ngeprint cover untuk laporan aktualisasi. Aku pun ikut bergabung dengan mereka dan berbual sepuas hati. Sepanjang cerita yang tidak berbobot itu … aku sama Pak Ali berniat untuk mengajak kedua bidadari … Nova dan Dila untuk ikut pergi ke Bukitinggi bersama kami. Dan hasil kesepakatannya … mereka mau dan perginya setelah makan siang. Kemudian kami bubar dan pergi ke kamar-masing-masing.
Di dalam kamar … aku tidur-tiduran sambil menunggu keberangkatan. Zzzzzz … akhirnya aku tertidur beneran. I jam kemudian … Pak Ali masuk membangukanku dari tidur. Ayo way … berangkat kita lagi … udah jam 12 ini. Sabar way … nanti kita pergi sama-sama dengan Bang Jamil dan Pak Andres. Dengan penuh kesabaran kami menunggu. Singkat cerita … Pak Andres datang dan ia tetap tak bisa pergi walaupun sudah dibujuk rayu oleh Bang Jamil. Dan yang membuat hati semakin bahagia … Bang Jamil dengan wajah sok polosnya itu mengatakan tak bisa pergi juga. Ingin rasanya kukempeskan perutnya yang imut itu dengan jarum suntik. Wkwkwk ... sabar way. Soory Bang Jamil… just kidding nya … hhee … Okelah kalo gitu Bang … kami berangkat dulu … Assalamualaikum …
Bersama Pak Ali … kami langsung menuju ruang makan. Di sana telah menanti dua bidadari tak bersayap … Dila dan Nova. Usai makan siang … kami langsung tancap gas untuk pergi ke Bukittinggi menggunakan angkot. Di dalam perjalanan … kami sudah saling mengingatkan untuk tidak belanja banyak-banyak. Cukup sekedarnya saja. Pokoknya aku way …. cuman mau beli oleh-oleh saja … kata Pak Ali. Iya aku juga loh … timpal Nova dan juga Dila diikuti oleh anggukanku. Pokoknya kami sudah menanamkan komitmen mutu agar tidak khilaf ketika di pasar nanti. Akhirnya … sampai juga kami ke Pasar Aur yang bisa dikatakan tanah abangnya Bukitinggi. Karena lokasi pasarnya yang luas dan harganya relatif murah. Kalau menurut rencana … kami maunya langsung turun ke Bukittinggi … tapi karena mobil angkotnya cuma sampai sana … dan harus naik angkot lagi kalau mau ke Bukittinggi … maka dari itu kami turun di Pasar Aur. Tibalah saat-saat yang membuat penasaran kalian mucul way. Lets go …
Belum beberapa lama kami berjalan di Pasar Aur … mata Nova udah tergoda. Tanpa banyak basa basi udah 100 ribu uang ludes untuk membeli jilbab. Tak lama kemudian … aku pun tergiur untuk membelinya … eits … tapi bukan untuk aku pakai ya way … tapi untuk oleh-oleh saudaraku ketika aku pulang kampung nanti. 100 ribu pun ludes dari dompetku. Pak Ali nampaknya agak gusar melihat kami membeli jilbab … entah apa yang ada dibenaknya. Hanya tuhan dan dia yang tahu. Lanjut way … kami keliling lagi mencari sesuatu yang tidak ada dalam rencana kami tadi. Lalu, aku berhenti di depan lapak orang jual celana pendek. Mengingat celana pendeku cuman ada dua … jadi tergerak hatiku untuk membeli celana yang kalau satuannya 25 ribu … kalau 3 harganya cuman 60 ribu. Jadi … aku memutuskan untuk membeli 3 celana pendek. Uang keluar lagi. Pelan tapi pasti … kami sudah amnesia dengan komitmen mutu kami di angkot tadi. Lanjut lagi way …. entah kenapa … setelah  kelilin-keliling … kami kembali lagi di tempat orang jual jilbab tadi. Tiba-tiba … aku mau beli jilbab juga untuk istriku. Kata Pak Ali. Oh … jadi ini yang membuat dia gusar tadi. Namun … jilbab yang diinginkan pak Ali tak ada di sana … jadi kami keliling lagi mencari orang yang menjual jilbab. Nah … laba keuntungan menjadi rezeki ibu yang jual di pinggir tanpa lapak. Ia menawari kami jilbab dengan harga yang murah … 3 seratus ribu. Nampak-nampaknya model jilbab yang dicari Pak Ali ada di sana. Jadi pintu hatinya terketuk untuk membelinya. Again dan again … dengan bujuk rayu kami … Pak Ali membeli 6 jilbab. Karena kami bilang … Pak Ali … daripada beli 3 … lebih baik beli 6 … lebih murah … kalau 3 … 100 ribu … kalau 6 cuman 180 ribu … iyakan buk … kata nova mengeluarkan jurus-jurus kompornya. Iya … kata ibu itu. Itulah kenapa Pak Ali mengubah keputusannya yang semula hanya ingin beli 3 tetapi menjadi 6 jilbab. Uang 180 ribu pun lenyap dari kantong Pak Ali. Nah gitu kalau sayang istri. Dia nampak bahagia.
Lalu … Kami terus mengelilingi Pasar Aur sampai mata Dila terpesona melihat celana berlipat-lipat kayak gorden. Benar saja dugaanku … celana yang terpampang di pajangan tadi … seketika sudah masuk dalam kantong plastik. Dan dia tidak sendirian membelinya … Nova pun ikut-ikutan untuk membeli celana gorden tersebut. Lagi dan lagi …. Antara rencana dan realita sulit untuk bersatu. Uang pun keluar dari dompet Dila dan Nova. Ihh … aku khilaf … mereka berujar. Wanita emang gitu … hati-hati kalau mengajak mereka ke pasar … hhee. Kemudian … kami berhenti lagi di lapak baju tidur. Awalnya kami tidak tertarik untuk membeli … namun … mengingat untuk oleh-oleh pulang kampung nanti … biar agak banyakan dikit … jadi aku tergiur untuk membelinya. Mulanya cuman aku yang mau membeli. Namun … mata Nova … untuk sekian kalinya … khilaf … dan ikutan untuk membeli juga. Bagus Bang katanya. Bukan pedagang namanya … kalau barang dagangannya tidak ia tawarkan semua. Lalu … ibu itu mengeluarkan baju panjang … kayak baju dingin gitu … sekilas kalau dilihat seperti baju habis mandi gitulah pokoknya … dan Nova pun tergiur. Ditambah lagi kompor gas dari kami … yang bilang kamu semakin cantik pakai baju itu Nova. Pipinya pun memerah dan tak jadi membeli baju tidur tetapi membeli baju habis mandi itu. Luar biasa Nova … sahalut. Pokoknya … teruskan way ….
Ini belum berakhir way … kita lanjut lagi ceritanya. Setelah dari lapak ibu itu … kami masuk lagi ke dalam pasar dan menghampiri toko pakaian yang membuat mata Dila tertuju pada baju habis mandi … persis seperti yang dibeli oleh Nova tadi. Tetapi baju yang ini beda warna dan juga bahannya. Namun … Dila belum tergerak hatinya untuk membelinya. Dengan pendiriannya yang kokoh … ia tetap tidak mau membeli baju itu. Dan kami pun pergi. Entah setan apa yang merasuki kami pada saat itu … setelah keliling dari beberapa toko pakaian … akhirnya kami kembali lagi ke toko itu dan merayu Dila untuk membeli baju itu. Berkat mulut-mulut sales kami… kecantikanmu bertambah Dila kalau kamu pakai itu. Ditambah lagi nanti kamu menyesal Dila kalau nggak membelinya. Jiaaah … akhirnya … benteng Dila runtuh … dan ia pun membeli baju itu. Kami pun tertawa terbahak-bahak … menertawakan kekonyolan kami. Hhhaaa ….
Nah way … kegiatan belanja yang kadak panteng masih terus berlanjut sampai ke Bukittinggi. Di sana kami masih sibuk membeli baju, jaket, celana, sepatu dan lain sebagainya. Inti dari rencana kami untuk membeli oleh-oleh dilakukan pada detik-detik kepulangan. Luar biasa … tujuan utama yang kami beli hampir terlupakan. Nggak papalah … yang penting kami bahagia … kapan lagi bisa ke sini bersama teman-teman. Kami memotivasi diri. Hhheee… Lalu sekitar 7 malam kurang … kami pulang ke Baso dengan memesan grab. Akhirnya pulang juga way … kulihat raut-raut kelelahan dari wajah mereka. Bayangkan saja way … dari jam setengah 2 siang kami berangkat … dan baru pulang hampir jam 9 malam. Dan kegiatannya cuma satu … belanja. Luar binasa way …
Itulah cerita belanja kadak panteng kami way. Sebenarnya … masih banyak lagi yang mau aku ceritakan. Namun apa mau dikata … tanganku udah capek untuk mengetiknya. Cukuplah sampai di sini dulu way ceritanya ya … dadada ….


Tembilahan, 17 November 2019

CERITA AKHIR LATSAR CPNS ANGKATAN 33, KABUPATEN INDRAGIRI HILIR, PPSDM KEMENDAGRI REGIONAL BUKITINGGI 2019
                                                     Aku, Bang Jamil, dan Pak Andres

                                                               Pak Ali, Aku, dan Dila

                                                                Dila, Nova, dan Aku


                                                        Sebagian dari belanjaan Pak Ali

                                                           Sebagian dari belanjaan Dila
                                                                     Celana gorden

                                  Sebagian belanjaan dari Nova


\

Post a comment

2 Comments